Hai Kalian.. ✨

Bagaimana hari ini? Semoga baik-baik aja ya.

Eh ga kita sadari udah masuk ke stage 4 dari 12 Stage pendewasaan. Kali ini di stage ke 4 Yuss mau ngebahas tentang Quarter Life Crisis.

Kalian pernah denger ga kalimat itu? atau mungkin kalian juga lagi ngalamin hal itu?

✦ jejak visual
temaram 1
temaram ✦
temaram 2
tumbuh ✦
temaram 3
proses ✦
temaram 4
bertumbuh ✦
temaram 5
mekar ✦
temaram 6
perjalanan ✦

Bagi teman-teman yang belum tau, Quarter Life Crisis itu adalah sebuah kondisi dimana kita sedang ngerasa serba dilematis, cemas, atau bahkan ragu atas diri kita.

Bingung memilih hubungan atau karir, cemas akan pencapaian dan validasi, ragu atas kemampuan yang kita miliki, dan merasa tertinggal atas pencapaian yang orang lain raih.

Biasanya Quarter Life Crisis (QLC) itu timbul karena beberapa faktor, diantaranya dari lingkungan internal maupun eksternal.

quarter life crisis
dilematis
ragu diri sendiri
cemas karir
validasi diri
penerimaan diri
tumbuh bersama
proses dulu

Mulai dari orang tua yang kadang nanya kapan nikah tapi kita masih struggle atas hidup, kadang juga selalu di perbandingkan dengan pencapaian orang lain, atau kadang juga timbul karena kita selalu membandingkan diri kita dengan apa yang selama ini kita konsumsi — konten media sosial, influencer, atau lain semacamnya.

Kadang itu semua bisa bikin kita jadi kehilangan arah, bingung mau melangkah kemana, sampai kadang kita bingung nyari jalan keluarnya.

Tapi kalian tau ga sih? Kalau QLC ini ga hanya terjadi di generasi yang lahir di tahun 2000-an aja loh — atau biasa yang kita sebut Gen-Z — tapi juga hal seperti ini lumrah terjadi di generasi sebelumnya, baik yang lahir di tahun 1981–1990 dan 1991–1999.

💬
Tekanan Keluarga
Pertanyaan kapan nikah, kapan kerja, atau selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain.
📱
Sosial Media
Konten influencer yang membuat kita merasa tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri.
🔍
Kurang Penerimaan Diri
Selalu melihat pencapaian orang lain tanpa menghargai proses dan potensi diri sendiri.
🌊
Standar Orang Lain
Mengukur kesuksesan berdasarkan tolak ukur yang dibentuk oleh orang lain, bukan versi kita sendiri.

Biasanya QLC terjadi karena pemicu utamanya adalah kurangnya penerimaan diri kita terhadap segala potensi dan keadaan yang ada.

"
"

Setiap orang itu memiliki porsinya,
setiap orang itu memiliki versinya.

Kesuksesan itu bukan hanya terletak pada hasilnya saja,
tapi pada konsistensi proses dan menghargai progres.

Umm gini maksudnya, kalian pernah denger kalimat — " Buah yang matang di pohon akan lebih kerasa manisnya, dari pada buah yang matang karena melalui proses peraman "?

Jadi dalam fase bertumbuh, harus melalui setiap tahapan dan proses. Pencapaian orang lain jangan jadikan pembanding, tapi jadikan itu sebagai motivasi. Setiap orang itu berhak loh mendefinisikan kebahagiaan atas hidupnya, bukan mendefinisikan hidup kita diatas definisi hidup menurut orang lain.

Quarter Life Crisis kalau dibiarkan secara terus menerus justru akan melahirkan versi diri kita yang ga otentik dan original.

Justru malah akan melahirkan versi diri kita yang cenderung memaksakan bunga yang mekar sebelum waktunya.

Hasilnya apa? Mekar sih mekar, tapi ga ada nektar dan pada akhirnya akan cepat layu.

" Setiap orang bisa mendefinisikan bahagia sesuai keinginannya, tapi kalau definisi bahagia timbul dari definisi orang lain, kita akan kehilangan originalitas diri kita.

Kita akan terus-menerus menilai diri kita atas standar yang dibentuk orang lain. "

Salah satu cara kita untuk sembuh dari QLC ini adalah dengan fase penerimaan. Biasanya juga dengan mindfulness — nanti kita pelajari di stage selanjutnya ya tentang Mindfulness.

Hal yang wajar ketika kita ngerasa takut akan kegagalan, tapi jangan terlalu berlarut-larut. Kita harus bisa menyakinkan diri sendiri bahwa kita bisa lalui setiap tahapan dengan tahapan.

🤍
Fase Penerimaan
Menerima diri, potensi, dan keadaan yang ada sebagai langkah awal pemulihan dari QLC.
🌱
Nikmati Prosesnya
Sesekali jangan terlalu fokus dengan hasil, tapi harus nikmati prosesnya. Kurangi ekspektasi berlebih.
Tetap Optimis
Optimis sangat perlu, tapi kita juga ga boleh menyandarkan pada ekspektasi dan hasil semata.
🚀
Tumbuh Bersama
Kita bangkit ya, kita bersama-sama untuk tumbuh jadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jangan takut melangkah, jangan takut berproses, dan jangan takut bermimpi — bukan untuk ekspektasi, tapi untuk bertumbuh jadi pribadi yang lebih baik lagi. ✦

🌙

Proses setiap orang itu pasti berbeda, tapi semua memiliki tujuan yang sama —

terlahir dengan versi yang lebih baik lagi. ♡

📸 Instagram ✉️ Email
♪ Perunggu — 33x