Semoga selalu dalam keadaan yang terbaik yaa.
Di stage sebelumnya, aku pernah menyinggung tentang mindfulness. Kalian pernah ga sih duduk terdiam, merenung dan bertanya tentang makna hidup, selalu bertanya " Siapa kita ? ", " untuk apa kita ada ", dan " Bagaimana selanjutnya ".
Seringnya kita banyak bertanya tentang arah dan tujuan hidup. Ibarat kita tersesat ditengah arus, kita akan kebingungan dan sering bertanya tentang bagaimana cara melangkah di tengah arus — apa aku harus melawannya ataukah aku harus mengikutinya.
Mungkin dulu waktu masih kecil, kita pernahkan main ular tangga. Kita melempar dadu, ekspektasi kita pengennya angka yang keluar adalah angka yang kita inginkan, sehingga kita bisa finish dengan tepat. Tapi kalau pada akhirnya angka yang keluar beda dari apa yang kita inginkan, apa yang terjadi? Kita menyalahkan keadaan.
Nah jadi disini peran mindfulness. Mindfulness itu ngajarin kita tentang cara melangkah tanpa menghakimi sesuatu yang ada diluar kendali diri kita. Kadang kita suka menyalahkan lingkungan eksternal atas kegagalan yang kita terima, overblaming dan pada akhirnya kita akan menyalahkan takdir.
Tau ga sih kalau pada hakikatnya, manusia itu selalu dikendalikan oleh tiga hal — diantaranya adalah Emosi, Ekspektasi, dan Anxiety.
Kita hadir dimasa ini, kita menyadari bahwa masa depan itu adalah sebuah misteri, dan banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sehingga dengan mindful, pikiran dan emosional kita lebih bisa dikendalikan kalau ternyata masa depan ga sesuai dari apa yang kita bayangkan.
Kalau kalian pernah menempuh pendidikan tinggi di sebuah universitas, kalian mungkin pernah berfikir gini : aku lho sarjana, harus dapat pekerjaan dikantor, dengan gedung tinggi.
Nah mindfulness itu malah kebalikannya — ngajarin buat mempertanyakan tentang :
" Kalau kalian tanpa gelar itu, siapa sih kalian seutuhnya ? Kalau kalian tanpa ijazah itu, siapa kalian itu ? "
Jadi dengan mindfulness itu, kita akan nyoba merefleksikan tentang kesempurnaan itu ga akan pernah melekat pada diri manusia.
Mindfulness hadir buat memberi batas
antara ekspektasi dan kondisi saat ini,
membatasi dari rasa kecewa karena ekspektasi tinggi,
membatasi diri dari rasa frustasi dan anxiety.
Umm bingung ga? Nah sebagai gambaran, kadang kita itu menentukan tentang kebahagiaan melalui pola kesempurnaan, kadang mendefinisikan kebahagiaan dengan cara yang kurang tepat.
Misal gini : " bahagia menurutku kalau udah kerja ", terus udah kerja " bahagia menurutku kalau udah nikah ", terus kalau udah nikah " bahagia kalau udah punya anak ", dan begitu seterusnya. Tanpa akhir yang jelas.
Pada akhirnya kita mendefinisikan kebahagiaan adalah ekspektasi, tanpa mempertimbangkan dampaknya buat kehidupan kita. Dalam meraih kebahagiaan itu kita akan cenderung membandingkan diri kita dengan orang lain.
Mindfulness itu ngajarin kita buat hadir dimasa kini, karena kita ga bisa ngerubah masa lalu, ataupun ngerubah masa depan. Yang ada justru kita mempersiapkan masa depan dengan masa kini yang lebih sadar lagi. Bahwa kebahagiaan adalah ketika kita bisa menghargai setiap moment disini kini.
Berdamai atas batas kemampuan kita. Berdamai atas keterbatasan kita. Berdamai atas masa lalu kita.
Mindfulness itu tentang bagaimana cara kita merespon kalau kemungkinan-kemungkinan terburuk itu terjadi, sehingga kita akan ngerasa bahwa —
" Ya sudah, ga papa kalau memang yang terjadi seperti itu. Kita coba suatu saat nanti kalau di kasih kesempatan. "
Dengan Mindfulness, kita akan terbiasa untuk lebih memaklumi bahwa kita adalah manusia —
yang memang punya sisi lemah, ketidaksempurnaan, dan itu sah-sah saja. ♡